Mobil
Kita sudah tinggal di Bangkok cukup lama, hampir tiga tahun bulan November ini. Tapi cukup lama juga kita tidak punya alat transportasi pribadi, alis pake taxi kemana-mana dengan dua batita kita saat itu. Banyak pertimbangan sehingga kita tidak beli mobil disini, harganya yang cukup mengangetkan dibanding di Amerika dan belum ada keberanian yang cukup untuk menyetir sendiri. Suatu hari teman kantor Jeff butuh mobil baru dan dia kasih harga lumayan bagus (saat itu kita pikir bagus sih), dan dua tahun setelah masa penyesuaian di Bangkok kita beli deh, tanpa tanya-tanya kiri kanan,padahal dipikir-pikir usia mobil itu lumayan tua dan kita tidak tahu bengkel mana yang terpercaya untuk ditanya soal kondisi mobil itu. So kita percaya aja deh dengan orang itu karena kan dia teman sekantor, masak sih mau bohong soal kondisi mobil.
Akhirnya kita bisa senang-senang lagi, tidak harus mengandalkan supir taxi yang most of the time menyebalkan itu (untuk yang pernah tinggl di Bangkok dan Jakarta mungkin ngerti ya). Anak-anak juga bisa kembali duduk di carseat mereka (ga mungkin soalnya dulu tiap kali naik taxi harus teng-teng carseat, akibatnya anak-anak suka sedikit liar di taxi). Hidup jadi lebih cerah setelah ada mobil sendiri. Jeff memang suami yang super baik, dia merelakan gue dan anak-anak yang pakai mobil itu setiap hari, sedangkan dia hanya pakai ojeg dan skytrain untuk ke kantor (thank so much honey!).
Setelah menikmati mobil tua itu untuk setengah tahun, suatu pagi saat Jeff butuh mobil untuk ke kantor dan kebetulan gue ada ujian Thai Massage, eh tiba-tiba di perempatan Asok dan Sukhumvit, mobil kita mati dengan sukses. Dengan rasa was-was, Jeff akhirnya dorong mobil ke pinggir. Gila bok, bule dengan baju kerja yang masih rapi jali kudu dorong mobil... gitu kali ya pikiran tukang-tukang ojeg sehingga akhirnya salah satu dari mereka menolong kita untuk lebih kepinggir lagi parkirnya sehingga tidak mengganggu traffic pagi itu. Ya udah deh, jadi bikin trauma setelah itu. Setiap kali kita pergi jauh, kadang-kadang kita merasakan keanehan dimesinnya.
Suatu hari Sabtu, akhirnya Jeff udah ga sabar, kita pergi ke car dealer, untungnya dapat referensi dari Reno, jadi kita percaya orang yang punya itu, awas aja dia ngibul, gue balikin tuh mobil nanti. Akhirnya, setelah diubek-ubek tempat itu, kita punya dua pilihan, SUV atau sedan.
Pertama-tama, anak-anak dan gue pilih SUV, keren bok, anak-anak bisa main-main dimobil in case kita harus menunggu sesuatu, di sedan kan mana bisa tuh. Jeff mau sedan, dia ga suka karena makan banyak bensin. Akhirnya kita test drive, walah-walah... gue jadi yang ketakutan dengan SUV, karena terlalu besar and takutnya terbalik (primitif ga tuh gue?), abisnya perbandingan tinggi dengan lebar, lebih banyak tingginya. Dan ternyata bensinnya sama kayak sedan, cuma pake diesel, nah ini yang gue ga suka, berisik bok!! Akhirnya dengan melalui pertimbangan2 banyak, seperti tidak amannya anak-anak untuk naik turun SUV, soal harga, soal berisik dan terutama soal gue yang selalu ketakutan kalo harus nyetir di ketinggian (di Bangkok, hampir semua toll itu berupa jalan layang), gue itu selalu takut kalo harus nyetir diatas bukit, atau di jembatan tinggi, keluar keringat dingin lho, pokoknya susah deh dihilangkan, kecuali gue jadi penumpang ya.
So, setelah seminggu, kita balik lagi deh and kita putuskan dengan sepenuh hati, kita ambil sedan, hidup sedan!!! Jeff sedih, sepulangnya dari car dealer, dia lihat banyak SUV itu dijalan, tapi setelah diingatkan soal keamanan untuk anak-anak dan soal harga, di sadar deh.
Terima kasih sayang untuk concern soal kondisi mobil kita, karena gue kan yang lebih banyak pake, jadi gue yang lebih happy deh sekarang....
Akhirnya kita bisa senang-senang lagi, tidak harus mengandalkan supir taxi yang most of the time menyebalkan itu (untuk yang pernah tinggl di Bangkok dan Jakarta mungkin ngerti ya). Anak-anak juga bisa kembali duduk di carseat mereka (ga mungkin soalnya dulu tiap kali naik taxi harus teng-teng carseat, akibatnya anak-anak suka sedikit liar di taxi). Hidup jadi lebih cerah setelah ada mobil sendiri. Jeff memang suami yang super baik, dia merelakan gue dan anak-anak yang pakai mobil itu setiap hari, sedangkan dia hanya pakai ojeg dan skytrain untuk ke kantor (thank so much honey!).
Setelah menikmati mobil tua itu untuk setengah tahun, suatu pagi saat Jeff butuh mobil untuk ke kantor dan kebetulan gue ada ujian Thai Massage, eh tiba-tiba di perempatan Asok dan Sukhumvit, mobil kita mati dengan sukses. Dengan rasa was-was, Jeff akhirnya dorong mobil ke pinggir. Gila bok, bule dengan baju kerja yang masih rapi jali kudu dorong mobil... gitu kali ya pikiran tukang-tukang ojeg sehingga akhirnya salah satu dari mereka menolong kita untuk lebih kepinggir lagi parkirnya sehingga tidak mengganggu traffic pagi itu. Ya udah deh, jadi bikin trauma setelah itu. Setiap kali kita pergi jauh, kadang-kadang kita merasakan keanehan dimesinnya.
Suatu hari Sabtu, akhirnya Jeff udah ga sabar, kita pergi ke car dealer, untungnya dapat referensi dari Reno, jadi kita percaya orang yang punya itu, awas aja dia ngibul, gue balikin tuh mobil nanti. Akhirnya, setelah diubek-ubek tempat itu, kita punya dua pilihan, SUV atau sedan.
Pertama-tama, anak-anak dan gue pilih SUV, keren bok, anak-anak bisa main-main dimobil in case kita harus menunggu sesuatu, di sedan kan mana bisa tuh. Jeff mau sedan, dia ga suka karena makan banyak bensin. Akhirnya kita test drive, walah-walah... gue jadi yang ketakutan dengan SUV, karena terlalu besar and takutnya terbalik (primitif ga tuh gue?), abisnya perbandingan tinggi dengan lebar, lebih banyak tingginya. Dan ternyata bensinnya sama kayak sedan, cuma pake diesel, nah ini yang gue ga suka, berisik bok!! Akhirnya dengan melalui pertimbangan2 banyak, seperti tidak amannya anak-anak untuk naik turun SUV, soal harga, soal berisik dan terutama soal gue yang selalu ketakutan kalo harus nyetir di ketinggian (di Bangkok, hampir semua toll itu berupa jalan layang), gue itu selalu takut kalo harus nyetir diatas bukit, atau di jembatan tinggi, keluar keringat dingin lho, pokoknya susah deh dihilangkan, kecuali gue jadi penumpang ya.
So, setelah seminggu, kita balik lagi deh and kita putuskan dengan sepenuh hati, kita ambil sedan, hidup sedan!!! Jeff sedih, sepulangnya dari car dealer, dia lihat banyak SUV itu dijalan, tapi setelah diingatkan soal keamanan untuk anak-anak dan soal harga, di sadar deh.
Terima kasih sayang untuk concern soal kondisi mobil kita, karena gue kan yang lebih banyak pake, jadi gue yang lebih happy deh sekarang....







1 Comments:
At September 25, 2006,
Anonymous said…
asik asik ... ;)
selamat tinggal ke-mogok-an .. hihihihi ....
nin
Post a Comment
<< Home